Minggu, 30 November 2008

Bunga Anyelir


Bunga Anyelir


Ketenaran bunga Anyelir hampir menyamai bunga Mawar, dan juga merupakan salah satu bunga yang paling populer di dunia. Bunga ini merupakan ekspresi dari suatu perasaan yang sentimental, kecantikan, serta kesegaran yang tahan lama. Bunga Anyelir kebanyakan berwarna merah muda, namun ada pula yang berwarna merah, putih, kuning dan hijau. Bentuknya bulat dengan komposisi beberapa bagian kelopak yang terpisah. Bunga ini tumbuh dan mekar di tiap tangkainya.

Budidaya anyelir di Indonesia pada umumnya dilakukan di dalam rumah naungan (shading house). Penggunaan rumah ini dimaksudkan untuk melindungi tanaman dari terpaan angin, perubahan suhu, terik matahari, curah hujan vana berlebihan dan hama pengganggu tanaman.

Sebelum bibit ditanam, dilakukan pengolahan tanah yang dilanjutkan dengan pembuatan bedengan. Empat unit shading house ukuran 210 m2 memiliki bidang tanam masing-masing 120 m2 sehingga seluruhnya terdapat 480 m2 Dengan jarak tanam sekitar 25 cm x 25 cm maka dapat ditanam 9.640 tanaman. Keadaan tanah yang ideal untuk tanaman anyelir adalah tanah yang bertekstur liat berpasir, gembur, berdrainase baik dan mempunyai pH antara 5,5 - 6,7. Seminggu sebelum penanaman bibit, tanah diberi pupuk dasar yang berupa campuran pupuk ZA 75 gram, TSP 75 gram dan KCI 75 gram untuk setiap m2 lahan.

Bibit anyelir umumnya masih didatangkan dari breder di luar negeri, namun demikian ada juga yang dikembangkan di dalam negeri oleh Balai Penelitian Departemen Pertanian. Bibit yang berasal dari luar negeri mempunyai warna dan bentuk yang menarik, tetapi petani harus membayar royalty kepada pemberi bibit, sedangkan yang bibitnya dari dalam negeri dapat diusahakan untuk dapat diperbanyak sendiri. Kondisi saat ini para petani lebih mengutamakan bibit dalam negeri karena tingginya royalty yang harus dibayar, sementara itu para konsumen, terutama para "florist" juga cenderung menggunakan bunga dari varietas dengan bibit lokal karena tersedia di pasar lokal.

Tidak ada komentar: